26 April 2009

no-fucking-nameless-way

PEEEEEEEEEEEEERS

Apalah arti sebuah nama? Gue yakin ga sedikit dari lo yang perna denger & tau sama
phrase itu. Kalo bener2 dicermati, mungkin lo bakal nemu pesan tersirat kea yang gue temuin. Well—correct me if I’m wrong—dari pemikiran gue sendiri, ekstrim nya, inti dari phrase itu menitikberatkan pada ga penting nya arti sebuah nama. No ‘fense, karena gue yakin banyak dari lo yang ga sepikiran sama gue. Tapi tunggu dulu, gue jelasin kenapa gue ngambil kesimpulan kea gitu. (Dan perlu diinget ya, yang gue maksud ga penting disini adalah ARTI nama, bukan FUNGSI nama. Jadi kalo salah satu argument lo menyangkut masalah arti nama—nama sebagai pembeda dll—you can definitely count that out)

Sebelum gue jelasin, gue mu share dulu gimana bisa di pikiran gue tiba2 terlintas hal—yang sepintas emang ga penting—ini. Well gue punya neighbor. Not actually neighbor. Bapa2, tinggal persis di ruma sebelah ruma gue. He lives alone, and the house that he lives at bukan ruma nya dia, tapi dia diberi amanah untuk ngejagain ruma itu since the owner doesn’t actually lived there. Diliat dari—sorry to say—status dan pekerjaannya aja, keliatan kalo dia bukan dari orang berada. Bisa dibilang, mungkin dia adalah salah satu dari orang yang rela desek2an, injek2an, kalo ada pengusaha-cari-sensasi yang ngebagiin duit dari helikopter yang lagi terbang. My point is, his name is definitely the same sama salah satu today’s pejabat pemerintahan sekaligus salah satu pengusaha terkaya di Indonesia. Bisa diliat kan disini, gimana arti nama bisa sebegitu ga berpengaruhnya dalam berkehidupan. Emang agak nonsense, tapi maksud gue disini adalah, saat nama mereka sama—arti nama mereka juga pasti sama kan?—kenapa nasib mereka bisa ga sama, jauh banget bahkan. Disinilah, ga pentingnya arti sebuah nama, toh ga akan mengubah nasib seseorang hingga menjadi sama seperti orang lain yang punya nama yang sama.

Lets say if someone’s name is Iman—no ‘fense buat yang punya nama sama. Generally, iman artinya keyakinan, kan? Keyakinan penuh penuh sama apa yang diyakininya benar, sama suatu hal yang diyakininya menjadi pedoman hidup, or in other words, sama agama nya. Apa iya, ngejamin kalo seseorang nama nya Iman berarti dia beriman sepenuhnya sama agama nya? Jangankan sepenuhnya, bahkan, apa iya ada jaminan, kalo seseorang nama nya Iman, ada SECUIL aja keimanan dia hatinya. Siapa yang bisa jamin, kalo seseorang yang nama nya Iman ga beralih agama dan meruntuhkan semua keimannya. Ga ada kan? Jadi perlu digarisbawahi lagi, apa iya, sebegitu pentingnya arti nama?—yang bahkan, ga menjamin gimana kehidupan seseorang yang memiliki suatu nama dengan arti tertentu, even keyakinannya sendiri.

Mungkin makin lo baca artikel ini, makin lo ga setuju sama gue. Tapi biar gue lanjutin dulu ampe selesai. Ada lagi hal penting mengenai arti nama. Tapi sebelum itu, gue pengen nanya dulu, ada yang tau, berapa tepatnya jumlah bahasa yang digunakan manusia di seluruh dunia? Ada BANYAK banget kan? Gausah jauh2 deh, di Indonesia aja, ada berapa tepatnya jumlah bahasa yang digunakan disini? Liat dari letaknya aja, at least satu pulau punya satu bahasa masing2. Belom lagi kalo dispesifikasi lebih jauh, misalnya bahasa yang digunakan dalam orang yang bahkan masih dalam suatu area, tapi salah satu kelompoknya udah lebih modern dibandingkan kelompok yang lain. Disini yang jadi masalahnya, lagi2, apa ada jaminan, kalo suatu kata, suatu nama, yang artinya bagus pada salah satu bahasa, artinya malah lebih jelek, atau bahkan kebalikannya pada bahasa lain? Pasti banyak banget kan, kata bermakna ambigu kalo dilihat dari sudut pandang berbagai bahasa, apalagi ini menyangkut bahasa di seluruh dunia.

Untuk contohnya, gue punya temen, yang well bisa dibilang namanya unik. Bagus. Langka lah. Salah satu one of a kind. Sepengetahuan gue, dan sepengakuan dia, arti namanya itu penghayat alquran. Salah satu kata dari suatu bahasa daerah lah, poko nya. Nah—yang sepengetahuan gue lagi, tapi ga sepengakuan dia—gue punya ex-maid, yang origin nya sama dengan temen gue tadi, dia perna ngatain orang dengan kata yang sama dengan nama temen gue tadi. Dan setelah gue tanyain ke dia, dia ngaku ternyata itu artinya bebek. See? Jauh banget kan penghayat alquran sama bebek? Padahal mereka berasal dari suatu daerah yang sama. Gimana dengan bahasa lain, yang malah dipisahkan dengan suatu benua? Apa ada jaminan kalo arti suatu kata—yang kelak dijadikan nama—akan sama dengan kata yang sama pula tapi dalam konteks bahasa lain? Lagi2, gue tanya, apa iya arti suatu nama penting?—saat lo tau, kita semua tau, bahwa mungkin—MUNGKIN—arti nama kita, ga selalu punya arti baik seperti yang selalu kita tau.

Jadi bisa diliat kan disini, kalo arti suatu nama, ga menjamin—bahkan menentukan—nasib orang yang mempunyai nama tersebut. Suatu arti nama, ga menjamin perangai dan kepribadian suatu orang yang punya nama. Arti nama—bisa dibilang—GA BERPENGARUH APAPUN pada kehidupan orang yang mempunyai nama. Ya, kehidupan. Jadi bisa dibilang, pengaruh arti nama tuh kecil—gaada sama sekali, bahkan—pada orang yang punya nama, ga berpengaruh sama sekali pada seluruh aspek kehidupan si empunya nama, dan yang lebih mendasar lagi, ga berpengaruh sama sekali pada IDENTITAS pemegang nama tersebut—terlepas dari identitas, namanya siapa, uda jelas. Jadi, ga bisa kita cuma rely sama nama kita, biarkan kebesaran arti nama tersebut bekerja, sehingga udah menjadi suatu jaminan buat kehidupan kita kedepannya—minimal, penilaian lingkungan mengenai kita—karena anggapan kea gitu salah besar, lagi2, arti nama BUKAN jaminan.

Jadi, gue simpulin sekali lagi, bahwa arti nama bukan merupakan identitas. Gini loh, masa iya, kalo ada 2 orang yang namanya sama, berarti identitas mereka sama? Atau, perangai mereka sama? Salah banget kan? Makanya, kalo ada orang, yang malu punya nama seperti—lets say—orang buruk atau yang dicap buruk oleh masyarakat, karena emang gaada yang perlu dimaluin. Belum tentu ada kesamaan antara 2 orang yang mempunyai nama yang sama—selain namanya itu sendiri. Nama BUKAN merupakan identitas, atau jaminan, bahwa perangai kita akan sama seperti orang lain yang punya nama sama. jadi ga perlu malu akan hal itu. Sebaliknya, gaada yang perlu dan bisa dibanggain kalo kita punya nama yang sama dengan orang sukses atau terpandang di mata lingkungan dan masyarakat, kecuali kita bisa sejajar dengannya. Buat apa kita berbangga atas kesuksesan orang lain yang gaada—baca: GAADA!—sama sekali kontribusi—jangankan kontribusi, hubungannya pun gaada—dari dan pada kita. Karena balik lagi, nama tersebut bukan jaminan, YANG MENENTUKAN SIAPA KITA ADALAH DIRI KITA SENDIRI, bukan nama kita, bukan bagaimana kita dipanggil, bukan arti suci nama kita, tapi diri sendiri. Bagaimana cara kita bersikap, cara kita membawa diri, jangan terus berada di bawah bayang2 orang yang udah duluan kesohor—either secara baik ataupun buruk—karena ga akan ada efek nya sama sekali bagi kita. Kalo cara pikir lo kea gini, harus diubah, really. Karena semua itu, balik lagi, yang menentukan adalah diri kita. Yang menentukan identitas kita, cantiknya diri kita, cantiknya kepribadian kita, bagaimana lingkungan memandang adalah dengan bagaimana pembawaan kita atas diri kita sendiri. Sekali lagi, BUKAN KARENA ARTI NAMA.

Jadi, gaada cerita nya, SAMA SEKALI, bahwa arti nama menentukan nasib seseorang. Malah, kalo ada yang bilang, faktor keberuntungan seseorang ada pada nama, itu SALAH BESAR. Kalo ada yang bilang keberatan nama lah, sampe perlu ganti nama segala, ngapain, cuma ngeribetin doang. Bukan bermaksud mau showoff, tapi gue cuma mu berbagi doang. Buktinya gue. Nama gue: MUHAMMAD ICHSAN FADILLAH—dengan bangga gue mengumumkannya, haha. Pas masi kecil—yah sekarang juga masih sih, cuma ga separah dulu—gue sering banget sakit, fisik gue lemah banget. Ampe nyokap gue bilang, gue langganan ruma sakit, kalo perlu, ada ambulans kali di ruma—lebay ya? Hahaha. Banyak yang bilang kalo gue keberatan nama, dan ga sedikit juga yang nyaranin kalo gue ganti nama aja. Untungnya, nyokap dan bokap gue bukan orang yang berpikiran sempit, jadi sampe sekarang nama gue masi sama. Dan ya, gue bisa survive kok dengan nama itu sampe sekarang. Emang, gue bukan termasuk orang yang the best, dikenal dimana2, juara ini-itu, tapi gue seneng dengan hidup gue, gue bangga dengan hidup gue. Dan dengan kea gitu, gue bisa tunjukin ke nyokap dan bokap, kalo nama dari mereka adalah nama yang terbaik buat gue—seberat apapun nama gue, yang kea anggapan orang2 tadi.

Jadi, sekali lagi, gue tekanin disini bahwa arti nama bukan suatu jaminan seseorang bisa menjalankan hidupnya dengan baik atau engga. Logika aja, emang apa yang bisa arti nama lakukan—secara nyata—pada kehidupan manusia? Gaada kan? NOL BESAR. Mungkin daritadi banyak dari lo yang ga setuju sama paparan gue ini. Silahkan kritik, comment, apapun gue terima. Cuma yang perlu gue kasi tau disini adalah, gue ga pengen lo misunderstand dengan apa yang mu gue sampaikan disini. Maksud gue disini adalah, bahwa suatu arti nama, akan menjadi BENAR-BENAR bagus, apabila dibuktikan dengan sikap dan pembawaan diri sendiri, terlepas dari nama itu artinya apa. Gue bukan bermaksud bikin lo—um, apa ya bahasanya? Skeptic, mungkin? Atau ini deh—takut, atau mengenyampingkan arti nama lo sendiri, tapi jadikan motivasi aja, bahwa arti nama yang diberikan orang tua kita uda bagus, tunjukin bahwa kita sanggup memikul dan mewujudkan harapan yang uda mereka berikan ke kita—dalam bentuk nama itu tadi. Karena yang menentukan diri dan kehidupan kita adalah diri kita sendiri.

So, lastly, be grateful of what you’re given, and do the best of what you’re given.

ICHSAN FADILLAH

No comments: