I just read the almighty Indonesia’s marketing father
Hermawan Kertajaya’s article about Jokowi phenomenon on October 2012 issue of Marketeers, called “Jokowi &
Marketing”.
This is the part that caught me:
This is the part that caught me:
Saya melihat ada lima hal yang terlihat dalam strateginya (Jokowi) di
Pilkada.
Pertama, prinsip low budget high impact dengan mengundang
partisipasi simpatisan sama seperti
penyelenggaraan festival-festival di Solo.
Kedua, inilah
pelaksanaan New Wave Marketing yang horizontal,
inklusif dan sosial. Jokowi berani berpasangan dengan ahok, dan tidak
melakukan kampanye masal, melainkan dengan blusukan
masuk kampung. Itulah yang memang dia lakukan di Solo bersama wakilnya, FX Hadi
Rudyanto.
Ketiga, melakukan
pendekatan pada youth, women, netizen (YWN)
dengan merangkul band Slank,
ibu-ibu di pasar hingga para blogger. Di Solo, pendekatan ini secara tidak langsung juga terjadi
dalam skala kecil.
Keempat, lebih
mengandalkan heart-share, ketimbang mind-share untuk memenangkan market share. Acara makan bersama di
Solo juga dilakukan Jokowi ketika berkeliling.
Kelima, ini yang
mungkin tidak pernah dibicarakan orang. Gaya ‘ndeso jowo’-nya mengingatkan orang pada sosok Tukul, yang juga sukses cukup
lama di segala lapisan masyarakat Indonesia. Ini sesuai dengan Marketing 3.0 (Konsep marketing
terbaru ini, yang muncul sebagai usaha mengimbangi konsumen yang semakin kritis,
menekankan pada pergeseran posisi approach
marketing. Konsep ini menawarkan value-based
marketing dengan 3 coresoul: mind, heart, spirit), yang
menggeser fokus dari product ke customer ke human spirit.
[This color is blogger’s personal editing. The editing is done only for
the clearness of the content to be posted on this blog.]

No comments:
Post a Comment