26 December 2012

Marketeers


I just read the almighty Indonesia’s marketing father Hermawan Kertajaya’s article about Jokowi phenomenon on October 2012 issue of Marketeers, called “Jokowi & Marketing”.
This is the part that caught me:

 

Saya melihat ada lima hal yang terlihat dalam strateginya (Jokowi) di Pilkada.

Pertama, prinsip low budget high impact dengan mengundang partisipasi simpatisan sama seperti penyelenggaraan festival-festival di Solo.

Kedua, inilah pelaksanaan New Wave Marketing yang horizontal, inklusif dan sosial. Jokowi berani berpasangan dengan ahok, dan tidak melakukan kampanye masal, melainkan dengan blusukan masuk kampung. Itulah yang memang dia lakukan di Solo bersama wakilnya, FX Hadi Rudyanto.

Ketiga, melakukan pendekatan pada youth, women, netizen (YWN) dengan merangkul band Slank, 
ibu-ibu di pasar hingga para blogger. Di Solo, pendekatan ini secara tidak langsung juga terjadi dalam skala kecil.

Keempat, lebih mengandalkan heart-share, ketimbang mind-share untuk memenangkan market share. Acara makan bersama di Solo juga dilakukan Jokowi ketika berkeliling.

Kelima, ini yang mungkin tidak pernah dibicarakan orang. Gaya ‘ndeso jowo’-nya mengingatkan  orang pada sosok Tukul, yang juga sukses cukup lama di segala lapisan masyarakat Indonesia. Ini sesuai dengan Marketing 3.0 (Konsep marketing terbaru ini, yang muncul sebagai usaha mengimbangi konsumen yang semakin kritis, menekankan pada pergeseran posisi approach marketing. Konsep ini menawarkan value-based marketing dengan 3 coresoul: mind, heart, spirit), yang menggeser fokus dari product ke customer ke human spirit.

[This color is blogger’s personal editing. The editing is done only for the clearness of the content to be posted on this blog.]


What do you think?



Image is credited to: Library STISI TELKOM 

No comments: