
Cheers everyone :)
I’ve been browsing so often lately, googling. Besides doing some lifestyle thingy, most-searched keyword di google gue itu “scholarship”. Ya, beasiswa, atau apalah istilahnya. Selain ngebantu kaka gue yang lagi sibuk-sibuknya nyari jalur-jalur spesial dan menguntungkan buat masuk kuliah, biar sekalian ada gambaran buat gue, dimana tahun depan gue juga akan berkutat dengan hal yang sama. Well, preparation is a plus score, rite? Daripada buta sama sekali, mending sekalian aja ngebantuin. Hehe.
Dari begitu banyaknya link scholarship yang buka, gue pelajarin beberapa hal. Pertama, jangan nyari beasiswa pas uda bulan-bulan kaya sekarang, uda banyak yang expired! Kedua, ada beberapa faktor yang sebenernya bisa kita jadiin buat jadi nilai tambah saat kita ngajuin beasiswa nanti. Ide dan kreativitas, sama intelejensia. Dan biasanya, mereka—para pemberi beasiswa—mengukurnya dari sebuah tulisan karya aplikan. Beberapa waktu belakangan, selama gue banyak browsing tentang beasiswa, gue temuin sebagian besar dari mereka—either wajib ataupun optional—minta aplikannya nulis tentang tema yang uda ditentuin, dalam paragraf-paragraf yang tersusun rapi dan sistematis, yang biasa disebut esai.
Ga jarang juga, dari sebagian link-link beasiswa yang gue buka, diantaranya bukan scholarships provider, atau pemberi beasiswa, tapi lebih kepada scholarsips consultant, atau penasihat/konsultan beasiswa. Scholarships consultant ini, baik lembaga, perorangan, maupun anonim, bukan yang menyediakan beasiswa—yang bersedia membayar penuh atau sebagian pengeluaran yang dibutuhkan aplikan terpilih—tapi lebih kepada pemberi informasi-informasi berharga bagi para peminat beasiswa. Like the essential points on applying a scholarship, atau daftar penyedia beasiswa dan bagaimana cara menembusnya, atau list beasiswa apa aja yang gampang ditembus dan yang lebih susah ditembus. Dan diantara banyaknya info-info berharga itu, banyak yang merekomendasikan kita untuk menulis sebuah esai, baik diharuskan, maupun engga. Soalnya, hal tersebut sedikit banyak bakal menjadi pertimbangan pihak pemberi beasiswa juga. Selain itu, bisa jadi ajang asah otak juga kan? Kita peka atau engga terhadap lingkungan saat ini, dan lebih lagi, kita peka atau engga dengan hal-hal kritis yang dijadiin tema esai.
Dari situ, gue jadi mikir kalo gue harus banyak bersiap-siap dalam mengambil langkah ke depan, terutama untuk beasiswa. Salah satu nya, dengan menjadi peka dengan apa yang terjadi dengan lingkungan sekitar, dan jangan lupa, asah terus minat dan bakat menulis kita. Penting tuh! Hehe.
Gue nemu sebuah lomba karya tulis, dalam bentuk blog competition. Tema nya tentang “Aku dan Negeriku”. Dan inilah gue, lagi ngetik-ngetik ngalor ngidul, iseng-iseng aja ikut. Selain mempertaruhkan skill menulis amatiran, yang lebih penting ya itu tadi, untuk latihan aja buat nanti kedepannya, pasti suatu saat dibutuhkan. Yaudalah ya, mulai aja, daripada makin ga jelas.
Aku dan Negeriku. Apa yang ada dipikiran gue ya? Negeriku, Indonesia, udah jelas. Tapi apa yang mau dikedepankan? Mau ngomongin “ayo majukan bangsa dan turunkan harga BBM!” takut dikira sok tau, anak ingusan kaya gue disuruh ngomong begituan, bukannya didengerin, malah diketawain. Mau ngomongin “selamatkan Indonesia dari HIV!” takut dikira pengidap HIV juga. Mau ngomongin “Jangan biarkan kekayaan bangsa direbut bangsa lain!”, ga punya gambaran pasti tentang apa sebenernya kekayaan yang dimaksud, takut dikira asal cuap.
Sampai sekarang pun, di benak gue seringkali muncul persepsi dimana Indonesia cuma bentuk fisis nya aja kepulauan tanpa makna, tapi sebenernya dari hasil potretan satelit (yang sering disebut-sebut buat motret bumi dari langit) nun jauh disana, ada figur kepulauan Indonesia yang jelas terbentuk deretan huruf-huruf dengan bacaan ‘GAME OVER’ dan setiap penduduk Indonesia tertempel di jidatnya ‘SUDAH MATI’. Sadis ya? Tapi mungkin itulah yang jadi interpretasi gue saat ini tentang Indonesia. Mungkin terlalu banyak ngedenger dongeng-dongeng klasik tentang gimana makmurnya Indonesia seperti yang sering diceritain orang-orang tua, atau ngedenger para pejabat mengumbar janji tentang bagaimana mereka bisa menyihir Indonesia menjadi makmur dan rakyat jelata cuma bisa bengong sambil ngiler, ngebayangin gimana nikmatnya hidup yang dijanjikan oleh para pejabat tadi, tapi pas ngeliat kehidupan nyata, mereka sadar itu hanya hiburan selewat, dan mereka harus kembali ke dunia nyata dimana mereka harus pergi berkilo-kilo meter demi mengisi perut anaknya yang merengek kelaparan. Begitu juga gue, mungkin uda terlalu pesimistis dengan semua cerita-cerita yang cuma bisa dijadiin bahan bengong dan ngiler doang, tapi berbeda jauh dengan realita yang terjadi.
Kenapa gue kebayangnya GAME OVER dan SUDAH MATI? Ya, layaknya game, yang kalo dimainin asal-asalan, akan berakhir GAME OVER, yang artinya permainan usai dengan hasil gagal, dan tokoh-tokoh didalamnya tewas dan akan berakhir dengan status SUDAH MATI, itulah gambaran gue tentang Indonesia. Indonesia, yang dijalanin asal-asalan, dimana sebagian dari penduduknya hanya sekumpulan orang-orang tukang bengong, dan sebagian lagi sekumpulan orang-orang tukang ngomong, dan diantara orang-orang itu gaada yang bener-bener bisa merealisasikan apa yang dibengongin dan diomongin. Jadilah, dijalanin dengan asal, terus game over, dan mati.
Gue sadar, sebuah hal yang sebesar dan se-complicated organisasi paling tinggi dalam suatu masyarakat, yang disebut negara, gabisa disamain sama hal kecil dan simple macem game. Negara, yang dibangun dan terdiri dari berjuta otak yang menjalankan, disamain sama game yang dibuat oleh hanya satu atau dua otak, dan dijalankan oleh sekelompok orang pencari hiburan. Lebihnya lagi, game, kalo uda game over, bisa kan di-set ulang dan dimainin dari awal banget, seperti sediakala. Tapi negara, uda carut marut hancur mancur ngucur (loh?), mau di-set ulang, gimana caranya? Lagipula, ga akan ada satu orang pun, bahkan orang paling bodoh (kalau ada) yang rela dirinya dianggap sudah mati karena kebodohannya. Inilah yang ngebuat gue jadi pengen ngerubah paradigma gue, point of view gue, mindset gue, untuk bisa benar-benar menghayati makna dari kata Indonesia, dengan segala elemen merah putihnya, dan beragam ras suku bangsanya, serta wilayah tanah airnya. Dan inilah yang ngebuat gue jadi bener-bener mikir lagi, bahwa sebenernya ada sebuah titik kecil, kalo orang-orang jeli melihatnya, yang bisa dijadikan sebuah titik balik. Titik itu bernama pikiran.
Apalah artinya sebuah titik? Toh, sebuah titik tipis ga akan jelas keliatan, sekalipun digoreskan di selembar kertas paling putih dan paling bersih. Tapi dari sebuah titik inilah yang nantinya akan menjadi goresan-goresan garis, dengan titik-titik lain yang akan menggoreskan ragam warna lainnya, dan akhirnya akan menghasilkan sebuah gambar indah dengan nilai seni tinggi. Tapi sebuah titik tebal, jangankan dapat menghasilkan sebuah gambar, garis teratur pun tidak akan dapat digoreskan apabila titik-titik lainnya tidak muncul, dan pada akhirnya hanya akan menjadi kertas kosong yang riwayatnya akan berakhir di tong sampah. Inilah sebuah pikiran. Dengan pikiran, sebuah produk bernilai tinggi—dengan tingkat apresiasi yang tinggi pula—dapat dihasilkan. Tapi di sisi lain, pikiran juga dapat mengancam posisi sebuah masyarakat, menjadi amat terperosok, jauh masuk diantara sampah.
Disinilah tindakan kita, sebagai elemen bangsa dan negara, yang harusnya dapat menggoreskan titik-titik tadi, bersatu menjadi garis, kemudian yang lainnya mengombinasikannya dengan warna sehingga menghasilkan sebuah negara yang dihargai, tidak hanya di tingkat nasional, tapi juga internasional. Yang perlu dilakukan adalah pengubahan mindset-mindset ‘tukang bengong’ dan ‘tukang omong’ menjadi mindset ‘titik dan garis’.
Diperlukan sebuah pencerahan bagi seluruh masyarakat agar mereka dapat menanamkan konsep ‘titik dan garis’ ini. Dan pencerahan tersebut tidak diperlukan dengan cara pemberian janji dan mimpi, tapi lebih kepada ‘transfer of knowledge’, atau penransferan ilmu pengetahuan. Klasik. Tapi, memang itulah kunci dari semuanya. Sebuah negara dapat diukur kemakmuran dan kesuksesannya dengan melihat bagaimana kondisi rakyatnya. Dan kondisi rakyatnya ini, ditentukan oleh tingkat pendidikan yang mereka miliki. Melalui penransferan ilmu pengetahuan ini, orang-orang bisa mengubah hujan, dari musibah, menjadi berkah. Mengubah panas, dari petaka, menjadi jejaka. Hahaha, ga lucu ya? Intinya, ilmu adalah dasar kualitas dari sebuah peradaban manusia. Dengan ilmu, seluruh hal dapat dikembangkan, seluruh kesempatan dapat terlihat.
Menyinggung soal hujan diatas, ada sebuah contoh nyata konsep ‘titik dan garis’ yang keberadaannya sangat dekat dengan kehidupan. Saat-saat musim hujan, seperti beberapa waktu lalu, berita-berita di TV menampilkan berbagai informasi mengenai banjir! Ya, banjir, yang menjadi tamu setiap tahunnya bagi sebagian warga Indonesia. Selang beberapa waktu sebelum itu, banjir marak dibicarakan, dengan berbagai cara pencegahan serta penanggulangannya. Banyak penyuluhan mengenai ‘buanglah sampah pada tempatnya’ dimana-mana, sebagai persiapan menghadapi banjir. Tapi, tak bermaknalah busa-busa yang keluar dari mulut pemberi penyuluh, apabila hal tersebut tidak dicerna dengan baik oleh peserta penyuluhan. Bagai titik garis tadi, sang penyuluh hanyalah sebuah titik tak berarti dimana sebagian besar masyarakat lainnya tidak ikut berperan dalam melakukan hal yang sama.
Bagi sebagian besar masyarakat, banjir sudah menjadi tradisi. Pola pikir inilah yang kemudian membuat mereka pasrah tanpa melakukan apa-apa. Mereka hanya memikirkan present life, hidup saat ini, tanpa menganggap hasil riset, bahwa tanah di Indonesia terus merangsek turun setiap tahunnya, benar adanya. Tetap saja mereka membuang sampah sembarangan, melakukan aktivitas sehari-harinya, yang malah dapat membuat banjir bertambah parah. Sangat ironis, memang. Di satu sisi, mereka sangat menginginkan sebuah tanah subur tanpa banjir dan wabah penyakit yang dibawa setiap tahunnya, tapi di sisi lain, mereka tidak mengerti bagaimana cara mewujudkan keinginan mereka tersebut agar dapat menjadi sebuah kenyataan. Disinilah, peran penting (Amat. Sangat. Penting.) dari sebuah ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, masyarakat dapat mengubah pola pikirnya dan ikut mengukir titik-titik dengan penyuluhnya tadi sehingga mengukir garis dan menghasilkan sebuah gambar dalam bentuk NUSANTARA BEBAS BANJIR.
Dengan pemberantasan para ‘tukang omong’ tadi juga, dapat dihasilkan sebuah masyarakat tanpa manipulasi dan pembodohan. Tidak bisa dipungkiri, saat ini para ‘tukang omong’ banyak memberikan janji yang seakan-akan nyata dan sangat menggiurkan, sehingga masyarakat akan terperdaya. Disaat ia sudah mendapatkan yang diinginkan, ia melupakan omongan-omongan lalu nya, dan meninggalkan masyarakat termanipulasi oleh omongan-omongannya itu. Hal ini lalu memancing masyarakat tanpa pengetahuan, untuk ikut-ikutan memanipulasi orang-orang bodoh lainnya, untuk mendapatkan apa yang dia mau. Lingkar setan ini akan terus menerus berulang tanpa adanya ilmu pengetahuan.
Dengan ilmu pengetahuan pun, kesempatan-kesempatan dapat terlihat. Betapa pun kaya, bersumber daya alam dan manusia yang bagus, apabila tidak dapat melihat dan mengembangkan kesempatan dengan baik, tetap aja bakal menjadi bangsa yang tidak berkembang. Inilah akhirnya, yang akan mengundang bangsa lain untuk ikut memanipulasi dan memonopoli hal-hal yang sebenernya menjadi hak Indonesia. Setelah terlihat hasil kekayaan terkeruk pun, barulah ramai pemberitaan ‘Perampasan Budaya, Kekayaan, Harta!’ dsb. Sebenarnya mereka bukan merampas, mereka hanya dapat melihat kesempatan, dan itu pula lah yang seharusnya kita lakukan, dimana dapat diperoleh melalui ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan yang diberikan pun tidak harus selalu melalui lembaga formal, seperti sekolah dan lembaga pendidikan formal lainnya. Tapi dapat juga diperoleh melalui penanaman moral oleh lingkungan. Disinilah lingkungan berperan penting untuk tidak menjadikan suatu bangsa menjadi manipulativ, atau bodoh, tapi sebagai bangsa yang tinggi dan dapat melihat kesempatan.
Itulah yang sebenernya dihadapi oleh bangsa ini. Bagaimana cara kita memperbaiki pola pikir seluruh ‘tukang bengong’ dan ‘tukang omong’ menjadi sekumpulan titik membentuk garis dan gambar inilah yang seharusnya menjadi tugas penting bagi seluruh masyarakat di Indonesia. Dengan begitu, GAME OVER tadi akan berubah menjadi SUKSES dan SUDAH MATI akan berubah menjadi HIDUP KEMBALI. Seluruh omongan dan mimpi dapat menjadi kenyataan. Disaat semua orang di seluruh pelosok negeri dapat dengan bangga meneriakkan “LIHATLAH KAMI, INILAH AKU DAN NEGERIKU!”
Selalu ada titik terang bagi pekerja keras,
ICHSAN FADILLAH
1 comment:
hmm, saya tidak melihat solusi yang paten untuk menghilangkan para tukang janji tersebut.
namun dari banyaknya tukang omong, semoga anda tidak menjadi apolitis.
thx, salam kenal..
Post a Comment