19 July 2011

Empress Orchid




"...Cara pandang paduka perlu disesuaikan sedikit."

"Cara pandang apa? Hidupku dicabut hingga ke akar oleh sebuah tornado, dilemparkan ke udara, dan sekarang aku terbanting hancur. Apa yang bisa kulakukan selain menyerah?"

An-te-hai menatap lekat kepadaku melalui cermin. "Tak ada—tak ada yang lebih mengerikan daripada menyerah, Putri."

"Jadi, apa yang harus kulakukan kalau begitu?"

"Mempelajari bagaimana pola tornado tadi bergerak." Dia mengambil sebuah sikat dan meneruskan menyisiri rambutku.

"Pola apa?"

"Kekuatan tornado bergerak di bagian tepinya." Si kasim memegangi rambutku ke atas dengan satu tangan, tangan satunya menyikatnya dengan gerakan cepat. "Angin ribut ini punya kekuatan mengangkat sapi dan kereta, lalu melemparkan mereka kembali ke tanah. Tetapi, bagian tengah sebuah tornado justru tenang ..." Dia berhenti, matanya menyusuri rambutku hingga ke ujung. "Rambut Anda sangat indah, Putri. Hitam lembut seperti sutra, tanda kesehatan yang baik. Ini harapan dalam pengertiannya yang paling mendasar."

"Lalu bagaimana dengan angin ribut tadi?"

"Oh, tornado, ya, bagian tengahnya yang aman. Bagian itu relatif tenang. Di sinilah Anda harus berada, Putri. Hindari jalan-jalan yang Anda tahu tak banyak menawarkan kesempatan, pusatkan pikiran pada cara membuat jalan-jalan baru yang belum pernah dicoba orang lain, dan yang di situ duri tampak tebal."

ANCHEE MIN on Empress Orchid (2004)

No comments: